Contenuto Principale
qqqqqqqqqqqqqq.jpg
PDF 
Oleh Makli W. Mushodiq   
Sabtu, 14 April 2012 07:00
Standar Prosedur Operasional ( SPO ) ini dilakukan dalam rangka menyeragamkan prosedur kerja dalam setiap kegiatan Budidaya Ikan Gurami terutama yang berhubungan dengan pengadaan benih. Harapannya di masa mendatang adalah agar benih yang dihasilkan memiliki kualitas yang unggul ( sesuai standar ), tidak berfluktuasi dan dalam jangka panjang untuk menuju SNI.

SPO ini hendaknya diterapkan pada setiap kegiatan Budidaya Ikan Gurami mulai dari pemilihan dan pengadaan induk, Pemijahan, Pendederan sampai dengan Pengepakannya.

A. Standarisasi Prosedur Operasional ( SPO ) Pemeliharaan Induk Ikan Gurami
  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa pemeliharaan induk gurami sesuai dengan keadaan dan sifat-sifat induk gurami yang unggul.

  1. Prosedur

Pemeliharaan induk ikan dilakukan terus menerus sesuai kebutuhan untuk menghasilkan benih ikan gurami yang unggul dan berkualitas. Prosedur pemeliharaan induk ikan gurami adalah :

  1. Mengatur dan mengendalikan kualitas dan kuantitas air kolam.
  2. Memberikan kenyamanan pada induk dengan memberi tanaman hijau, tanaman pakan ikan
  3. Memberikan pakan yang berupa daun-daunan, sayuran, buah-buahan dan pelet secukupnya.
  4. Dosis pemberian pakan adalah 5 % dari berat biomassa induk ikan gurami berupa daun-daunan, sayuran dan buah-buahan, ditambah 1 % dari berat biomassa induk ikan yang berupa pellet yang berkadar protein 20-30 %.
  5. Frekwensi pemberian pakan perhari 2 kali yaitu diberikan pada pagi dan sore hari.

Standar Prosedur Operasional ( SPO ) pemberian pakan untuk induk ikan

Tujuan    : Untuk menjamin bahwa pemeliharaan induk ikan gurami sesuai dengan   target prestasi pertumbuhan, perkembangan dan fekunditas serta kesehatan induk ikan.

Prosedur : Pemberian pakan induk ikan gurami dilakukan pagi dan sore hari. Prosedurnya sebagi berikut :

  1. Menghitung jumlah keperluan pakan perhari dengan cara : % jumlah pemberian pakan perhari x berat biomassa berat induk ikan gurami.
  2. Menghitung jumlah pakan per setiap kali pemberian dengan cara : % jumlah pakan perhari x berat biomassa induk ikan.

Misalnya : Pemberian pakan dengan daun sente.

Berat biomassa ikan : 10.000 gram

% pemberian pakan perhari : 5 %

Frekwensi pemberian pakan perhari : 2 kali

Maka jumlah pemberian pakan perhari = 5 % x 10.000 g = 500 g.

Jumlah pakan 1 x pemberian = 500 g : 2 = 250 gram.

  1. Untuk pemberian pakan yang berupa buah-buahan diberikan 1 (satu) minggu sekali dengan dosis 1 % dari berat biomassa induk ikan gurami
  2. Untuk pemberian pakan yang berupa pellet diberikan 1 (satu) minggu sekali dengan dosis 1 % dari berat biomassa induk ikan.
  3. Mencatat jumlah pemberian pakan setiap hari pada formulir yang telah disediakan.
  4. Menyajikan pakan yang berupa daun sente dalam keadaan segar (baru petik) dari tanaman sente.
  5. Menyajikan daun sente hanya pada bagian daun, pelepah jangan diikut sertakan.
  6. Menyiapkan kebutuhan pakan dengan cara menimbang menggunakan timbangan duduk, lalu bagi pakan dalam kantong plastik (untuk pakan yang berupa pellet) dan untuk yang berupa daun setelah dipanen/dipetik kemudian dipotong tangkainya baru langsung diberikan. Jumlah sama banyak sesuai dengan frekwensi pemberian.
  7. Menyimpan sisa pakan dan pakan yang akan diberikan pada waktu pemberian berikutnya pada tempat yang terlindung (untuk jenis pakan yang berupa pellet).
  8. Mencampurkan vitamin C atau imunostimulan serta vaksin kedalam pakan jika memang sedang diperlukan atau dipandang perlu.

 

 

Standar Prosedur Operasional ( SPO ) Persiapan kolam Pembenihan

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa persiapan kolam untuk pembenihan sesuai untuk pemijahan induk ikan gurami dan memberi kenyamanan pada induk ikan gurami.

  1. Prosedur

Persiapan kolam pemijahan ini dilakukan sebelum induk ikan gurami yang akan dipijahkan dimasukkan ke dalam kolam. Prosedur persiapannya sebagai berikut :

  1. Menentukan luas kolam pemijahan induk ikan gurami disesuaikan dengan jumlah induk ikan gurami yang akan ditebar, dengan ketentuan untuk setiap induk jantan atau betina membutuhkan luasan minimal 5 m2. Jadi jika akan memijahkan induk ikan gurami dengan jumlah induk jantan 1 ekor dan betina 3 – 4 ekor , maka minimal memerlukan luas 20 m2 / 25 m2.
  2. Membuat pematang kolam dengan kedalaman 100 – 120 cm.
  3. Membersihkan kolam dari benda-benda mati maupun benda hidup yang bisa mengganggu induk ikan gurami.
  4. Membuat saluran pemasukkan dan pengeluaran air, pasanglah saringan terutama pada saluran pemasukkan.
  5. Mengisi kolam dengan air yang bersih sampai kedalaman 80 – 100 cm, setelah airnya cukup pasanglah perlengkapan pembenihan/pemijahan.
  6. Memasukkan induk - induk ikan gurami pada pagi atau sore hari.
  7. Menanami tepian kolam dengan tanaman sente atau yang sejenis. Hal ini berguna untuk persediaan pakan untuk induk ikan dan juga berfungsi untuk kenyamanan bagi induk ikan gurami.

 

Standar Prosedur Operasional Seleksi Induk Ikan Gurami

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa induk ikan gurami yang akan dipijahkan betul-betul memenuhi kriteria induk ikan gurami yang unggul.

  1. Prosedur

Seleksi induk ikan gurami ini dilakukan pada saat induk ikan gurami akan dipasang/dipijahkan dalam kolam pemijahan. Prosedurnya sebagai berikut:

  1. Memilih induk ikan gurami yang masuk kriteria induk ikan gurami yang unggul antara lain sehat dan tidak cacat, sirip kokoh, sisik besar-besar dan teratur, fekunditas tinggi.
  2. Asal induk ikan gurami berasal dari hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan gurami kelas induk dasar.
  3. Menghindari penggunaan induk ikan gurami dari satu keturunan.
  4. Menentukan induk jantan dan betina, dengan berat sekitar 1,5 kg – 2,5 kg.
  5. Menentukan penggunaan umur induk ikan gurami antara 3 – 7 tahun.
  6. Menentukan panjang standar induk ikan gurami minimal 30 cm.
  7. Jika setelah dipasangkan terjadi ketidak cocokkan, segera induk yang diduga menjadi penyebabnya harus segera diganti.

 

Standar Prosedur Operasional Pemberian Sarana Pemijahan

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa Sarana Pemijahan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan induk ikan serta memberi kenyamanan dan rangsangan induk ikan gurami untuk memijah.

  1. Prosedur

Pemberian sarana pemijahan induk ikan gurami diberikan sedemikian rupa sehingga akan memberi kenyamanan dan rangsangan induk ikan gurami untuk memijah serta untuk memberikan perlindungan dan kemudahan dalam memesan telurnya. Prosedurnya adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan jumlah serabut kelapa dengan cara mengalikan jumlah induk ikan gurami betina dengan 1,5 kg serabut kelapa ( setiap 1 ekor induk ikan gurami betina membutuhkan serabut kelapa sebanyak 1,5 kg ).
  2. Memasangkan sosog atau trucuk sejumlah induk ikan gurami dengan lainya simbang dengan disesuaikan dengan luas kolam.
  3. Pemasangan sosog atau trucuk dipasang 10 – 15 cm dibawah permukaan air.
  4. Sosog terbuat dari bambu yang dibuat anyaman melingkar seperti topi dengan diameter disesuaikan dengan tinggi induk ikan gurami betina, sedangkan trucuk terbuat dari bambu dengan panjang 40 cm lebar 3 – 4 cm berjumlah 9 (sembilan) buah, dengan cara pemasangannya 3 buah dipasang dibawah dan 3 buah dipasang di atas, 3 buah disamping kiri dan 3 buah lainnya dipasang disamping kanan dengan sudut kemiringan berkisar 30 derajat.
  5. Bahan sarang yang berupa serabut kelapa diletakkan di atas ram-raman bambu panjang 75 cm lebar 75 cm dengan jari-jari 3 – 4 cm dan dipasang di atas permukaan air.

 

Standar Prosedur Operasional Pengambilan Sarang

  1. Tujuan

Untuk menjamin pegambilan sarang yang baik dan benar.

  1. Prosedur

Pengambilan sarang dilakukan setelah induk ikan gurami selesai melakukan pemijahan dan dilakkan pada pagi atau sore hari. Prosedurnya sebagai berikut :

  1. Memastikan bahwa induk ikan gurami sudah memijah dan sarang sudah ada telurnya.
  2. Menyiapkan ember atau baskom yang berdiameter kurang lebih 50 cm dan isilah dengan air yang bersih.
  3. Membawa ember yang telah berisi air bersih tersebut ke dekat sarang ikan.
  4. Mengambil sarang ikan dan pindahkan kedalam ember dengan cara sarang masih tetap terendam dalam air.

Standar Prosedur Operasional Perawatan Telur/Larva

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa perawatan telur atau larva sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan serta kesehatan dari telur atau larva.

  1. Prosedur

Perawatan telur/larva dilakukan segera setelah telur/larva diambil dari sarangnya dan dilakukan perawatan dan pengamatan terus menerus selama fase larva ikan adalah sebagai berikut :

  1. Memilah-milah bahan sarang telur ikan secara perlahan-lahan dan hati-hati serta pelaksanaannya masih didalam air.
  2. Mengambil bagian sarang, kemudian membuang kotoran-kotoran serta telur yang tidak baik (non fertil).
  3. Membuang lapisan minyak yang ada secara perlahan-lahan.
  4. Mentreatment dengan menggunakan metyl biru dengan dosis 3 – 5 g/m3.
  5. Mengganti air bila kelihatan airnya sudah kotor, dengan cara diganti secara bertahap dan pelan-pelan.
  6. Meletakkan di tempat yang teduh dan terlindung dari sengatan matahari langsung, bau-bauan, dan atau sesuatu yang mencemari.

 

Standar Prosedur Operasional Transportasi Telur/Larva

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa distribusi telur/larva yang ada hubungannya dengan transportasi telur/larva sesuai, aman dan tetap sehat sampai tujuan

  1. Prosedur

Transportasi telur/larva ikan dilakukan jika telur/larva dijual keluar daerah, dalam jarak tempuh dan waktu yang relatip lama, prosedurnya adalah sebagai berikut :

  1. Transportasi atau pengangkutan telur/larva hendaknya dilakukan pada temperatur yang agak dingin, yaitu pada pagi, sore atau malam hari.
  2. Sebelum diangkut hendaknya dilakukan treatment metyl biru terhadap telur/larva kemudian diseleksi terhadap ukuran, umur, dan kesehatan telur/larva.
  3. Menggunakan air yang bersih, bebas dari cemaran-cemaran dan gunakan alat angkut yang sesuai dengan jumlah yang akan diangkut (misalnya : kantong plastik).
  4. Menggunakan oksigen murni sesuai dengan kebutuhannya.
  5. Mengikat wadah dengan kuat-kuat dan rapat serta masukkan ke dalam kardus karton untuk menjamin keamanan.

 

Standar Prosedur Operasional Persiapan Kolam Pendederan

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa persiapan kolam pendederan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan dari benih ikan.

  1. Prosedur

Persiapan kolam pendederan dilakukan selama 7 hari sebelum penebaran benih ke kolam pendederan. Prosedur persiapan kolam pendederan adalah sebagai berikut :

  1. Persiapan dimulai dalam keadaan kolam kosong dan kering.
  2. Memperbaiki komponen-komponen kolam, seperti saluran pemasukkan, saluran pengeluaran, saringan, kowenan dan caren kolam.
  3. Mencangkuli dasar kolam secara merata kemudian taburi kapur tohor secara merata dengan dosis 50 – 100 gr/m3.
  4. Menaburi pupuk organik yang sudah jadi secara merata dengan dosis 500 gr/m3.
  5. Menutup saluran pembuangan dan masukkan air yang bebas cemaran dengan ketinggian kurang lebih 40 cm.
  6. Membiarkan kolam selama 7 hari agar pakan alami tumbuh dan kolam aman untuk ditebar dengan benih ikan.
  7. Jika air kolam sudah siap dan telah tumbuh pakan alaminya maka benih ikan langsung ditebar.

 

Standar Prosedur Operasional ( SPO ) Penebaran Benih Ikan

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa penebaran benih ikan sesuai dengan tahapan pendederan dan pertumbuhan benih ikan.

  1. Prosedur

Penebaran benih ikan dilakukan pada saat kondisi kualitas dan kuantitas kolam sudah betul-betul siap dan baik untuk pertumbuhan dan dilakukan pada waktu cuaca yang cukup sejuk yaitu pada pagi atau sore hari. Prosedurnya sebagai berikut :

  1. Sebelum penebaran hendaknya dilakukan pengamatan dan pengukuran kualitas dan kuantitas air kolam.
  2. Kualitas dan kuantitas air kolam yang baik diantaranya meliputi : Suhu 25 derajat celcius – 30 derajat celcius

pH 6,5 – 7

Ketinggian air 40 – 50 cm

Kecerahan > 30 cm

 

Standar Prosedur Operasional ( SPO ) Pemeliharaan Benih Ikan

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa pemeliharaan benih ikan sesuai dengan target prestasi pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan benih ikan.

  1. Prosedur

Pemeliharaan benih ikan dilakukan mulai pada saat penebaran benih sampai akan dipanen. Prosedurnya sebagai berikut :

  1. Mengatur dan memperhatikan kualitas dan kuantitas air kolam.
  2. Memberi pakan setiap hari dengan pakan yang sesuai dengan umur, dan ukuran pertumbuhan.
  3. Pemberian pakan dilakukan sehari 3 kali dengan dosis pemberian 5 % perhari dari berat biomassa benih ikan.
  4. Pemberian pakan dilakukan secara menyebar/merata, terutama diarahkan ketempat-tempat yang banyak berkumpulnya benih ikan.
  5. Mengamati ikan berdasarkan gerakan/kelincahan dan respon terhadap pakan.

 

Standar Prosedur Operasional ( SPO ) Pemberian Pakan

  1. Tujuan

Menjamin bahwa pemeliharaan benih ikan sesuai dengan target pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan benih ikan.

  1. Prosedur

Pemberian pakan benih ikan dilakukan pagi, siang dan sore hari. Prosedurnya sebagai berikut :

  1. Menghitung jumlah keperluan pakan perhari dengan cara sebagai berikut :

% jumlah pemberian pakan perhari x berat biomassa benih ikan.

  1. Menghitung jumlah pakan per setiap kali pemberian dengan cara : % jumlah pakan perhari x berat biomassa benih ikan

Frekwensi pemberian pakan perhari

  1. Mencatat jumlah pemberian pakan setiap hari pada formulir yang telah disediakan.
  2. Menyiapkan kebutuhan pakan dengan cara menimbang menggunakan timbangan duduk, lalu bagi pakan kedalam beberapa kantong plastik, jumlah sama banyak dengan frekwensi pemberian.
  3. Menyimpan sisa pakan dan pakan yang akan diberikan pada waktu pemberian berikutnya pada tempat yang terlindung.
  4. Memberikan pakan dengan cara menebar pakan pada tempat-tempat berkerumunnya benih ikan.
  5. Jenis pakan untuk pendederan I adalah pakan alami dan tepung ikan.
  6. Jenis pakan untuk pendederan II sampai pendederan V adalah pellet, yang ukuran pelletnya disesuaiakan dengan ukuran benih yang dipelihara.
  7. Mencampurkan vitamin C, serta vaksin kedalam pakan jika memang sedang diperlukan atau dipandang perlu.

 

Standar Prosedur Operasional ( SPO ) Penjagaan Kesehatan Benih Ikan

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa benih ikan yang dipelihara telah terjaga kesehatannya dari hama dan penyakit ikan.

  1. Prosedur

Penjagaan kesehatan ikan dilakukan setiap saat, selain itu untuk menghindari terjadinya serangan penyakit perlu diberi kekebalan terhadap benih yang kita pelihara. Prosedur penjagaan kesehatan ikan adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan pengawasan dan pengukuran serta pengaturan kualitas dan kuantitas air kolam secara rutin.
  2. Melakukan pemeliharaan dan penanganan ikan sebaik mungkin, misalnya pada saat penangkapan harus menggunakan alat dan cara yang sedemikian rupa sehingga tidak membuat ikan menjadi stress.
  3. Memberikan pakan yang tepat dosis, mutu, jenis, dan ukuran pakan.
  4. Menghindari adanya bahan-bahan yang membuat pencemaran air.
  5. Mengamati kondisi kesehatan ikan yang dirasa mencurigakan, melakukan pemeriksaan ikan yang sakit lalu lakukan pengobatan dengan jenis obat yang tepat.
  6. Jika ada ikan yang kedapatan sakitnya sudah parah, maka ambilah ikan tersebut dan amankan dari ikan-ikan sehat lainnya.
  7. Melakukan tindakan pencegahan dan tingkatkan kesehatan ikan yang kita pelihara dengan lakukan vaksinasi, pemberian imunostimulan dan pemberian vitamin C setiap 2 sampai 3 bulan sekali.

 

Standar Prosedur Operasional ( SPO ) Panen Benih Ikan

  1. Tujuan

Untuk menjamin bahwa persiapan panen benih ikan dilakukan sebaik-baiknya dan menghindari kerusakan benih ikan yang akan dipanen.

  1. Prosedur

Panen benih ikan dilakukan jika akan dijual, diseleksi, dipindah ke tempat lain atau untuk penanganan yang sifatnya khusus yang mendesak. Prosedurnya adalah sebagai berikut :

  1. Beberapa hari sebelum dipanen benih ikan harus tidak diberi pakan, lama waktunya tergantung pada ukuran benih yang akan dipanen dan akan didistribusikan kemana.
  2. Sebelum melakukan pemanenan, mempersiapkan peralatan untuk mendukung pelaksanaan pemanenan.
  3. Alat-alat tangkap, atau wadah-wadah penampungan sebelumnya harus ditreatment atau disucihamakan.
  4. Menyiapkan suplai air penampungan yang bersih.
  5. Jika air tawar perlu dikurangi atau dikuras, hendaknya lakukan secara perlahan-lahan dan sedapat mungkin tidak mengakibatkan ikan stress.
  6. Melakukan pemanenan benih ikan pada temperatur yang cukup sejuk yaitu pada pagi atau sore hari.
  7. Melakukan penangkapan dengan alat tangkap dan cara yang benar.
  8. Menghindari penangkapan benih ikan yang tergesa-gesa dan menumpuk ikan pada alat tangkap.
  9. Menghindari penampungan benih ikan dalam wadah yang terlalu padat

 

 

 

comments
 
Ricerca / Colonna destra
Terdapat 3 Tamu online
Anggota : 284
Konten : 70
Web Link : 6
Jumlah Kunjungan Konten : 78719